MEMBANGUN SIKAP KEMITRAAN DALAM KELUARGA admin, 02/07/202102/07/2021 KIE KB Berseri Khutbah Jum’at : MEMBANGUN SIKAP KEMITRAAN DALAM KELUARGA Segala puji bagi Allah. Sholawat dan salam semoga dicurahkan kepada Rasulullah, panutan kita dalam segala kehidupan , yaitu nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, beserta keluarga, para sahabat dan semua pengikutnya yang selalu setia sampai akhir zaman. Ungkapan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah, atas curahan rahmat yang tidak pernah berhenti, semenjak kita dilahirkan kealam dunia yang fana ini sampai sekarang. Semoga kita digolongkan kepada golongan orang-orang yang selalu bersyukur ni’mat kepada-Nya, dapat meneladani orang-orang yang baik dan telah menunjukkan keberhasilannya dalam berbagai peri kehidupannya dan selalu berada pada jalan yang diridlai-Nya. Diantara kewajiban setiap dalam kehidupannya adalah dapat menunjukkan keteladanan, baik sebagai pribadi dalam menjalani profesinya, sebagai anggota keluarga dalam berinteraksi dengan sesama anggota keluarga lainnya, sebagai anggota masyarakat dalam berinteraksi dengan sesama anggota keluarga lainnya,sebagai anggota masyarakat dalam berinteraksi dengan masyarakat lainnya, sebagai kepala keluarga dalam menjalankan kepemimpinannya, sebagai ibu rumah tangga dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya, sebagai pimpinan masyarakat dalam mengayomi masyarakatnya, sebagai pimpinan perusahaan dalam mejalankan tugasnya, dan lain sebagainya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala “Dan demikianlah kami menjadikan kamu (umat islam) umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas perbuatan kamu …”(QS. Al-Baqarah, 2 : 143) Rasullullah Shallahua ‘alaihi wasallam sebagai fiqur utama bagi setiap muslim telah menunjukkan keteladanannya dalam segala segi kehidupan, baik sebagai pribadi, anggota keluarga, anggota masyarakat, kepala keluarga, pimpinanan masyarakat, dan lain sebagainya. Beliaulah figur utama yang telah menunjukkan keteladananya dalam membangun kemitraan dalam keluarga melalui tukar pikiran dan musyawarah dalam memecahkan berbagai persoalan keluarga, sehingga melahirkan sikap empati, kreatif dan persatuan diantara sesama anggota keluarga. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan banyak menebut nama Allah” (QS.al-Ahzab, 33 : 21) Hubungan Nabi Muhammad Shallallahu a’laihi Wasallam dengan Khadijah (istrinya), tidak sekedar hubungan suami istri pada umumnya manusia, tetapi beliau telah menjadikannya sebagai mitra, sebagai teman bicara, teman curhat dalam menghadapi tugasnya sebagai Rasulullah. Hal ini terbukti setelah beliau menerima wahyu yang pertama beliau dibawa oleh khadijah kepada pamannya yang bernama Warqah bin Naufal, seorang pendeta Nasrani, beliaupun menyetujuinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bukan manusia egois yang merasa hebat sendiri dalam keluarga, tetapi beliau selalu bermusyawarah dengan semua anggota keluarganya dalam menentukan kebijakan rumah tangga. Pentingnya bermusyawarah, beliau bersabda : “Tidak akan menyesal orang yang suka bermusyawarah” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memberikan keyakinan kepada semua anggota keluarganya bahwa perubahan nasib sangat bergantung kepada kreatifitas dan kedinamisan seseorang. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala “…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..” Agama Islam selalu mengingatkan kepada manusia agar kreatifitas dan dinamis dalam mengahadapi kehidupan. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Maka apabila kamu telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah kamu berharap” (QS.Alam Nasyrah, 94 : 7,9) Keteladanan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang lainnya, ialah bahwa beliau adalah orang yang kreatif. Diantara kreatifitasnya nampak lima tahun sebelum diangkat menjadi nabi, beliau dapat mendamaikan empat suku yang berselisih gara-gara semuanya mau menjadi yang palin terhormat dengan menempatkan hajar aswad di Ka’bah. Dengan kreatifitasnya ke empat suku itu sama-sama ikut andil dala peletakkan hajar aswad di tempatnya, dengan cara memegang masing- masing sudut sorban beliau yang di tengahnya tersimpan hajar aswad, lalu diletakkan hajar aswad itu ditempatnya oleh beliau sendiri, sejak itu mereka sepakat untuk memberi gelar kepada Muhammad “al-amin. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam adalah seorang yang dinamis. Diantara kedinamisannya nampak dari sikapnya dalam menghadapi realita kehidupan dan tuntunan perjuangan. Beliau pernah mencoba hijrah ke Thaif sekalipun akibatnya tidak menguntungkan. Tetapi setelah hijrah ke Yastrib yang diubah menjadi Madinah, kemenangan demi kemenangan pun dapat diraihnya, sehingga peristiwa hijrah dijadikan tonggak sejarah yang diabadikan sebagai permulaan kalender Islam. Dari madinah selain dapat membebaskan Mekah kota kelahirannya, Islam kemudian berkembang ke berbagai negara tetangga, yang akhirnya sampai ke negara kita tercinta Indonesia. Dengan modal kreatifitas dan kedinamisan, kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, semenjak kecil sampai dewasa, bahkan dalam mengemban misi kerasulannya terus maju sampai ke puncak keberhasilannya yang dinyatakan dalam Al-Qur’an : “Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agama agamamu, dan telah Aku cukupkan ni’mat-Ku terhadapmu, dan telah Aku ridha Islam menjadi agamamu” (QS. Al-maidah, 5 : 3) Pada kesempatan ini, khatib mengajak para jamaah yang berbahagia, mari kita membangun sikap kemitraan di dalam keluarga seperti telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi Wasallam, dengan memperhatikan hal- hal berikut, 1. Tanamkan sikap empati dalam keluarga. 2. Tanamkan sikap kreatifitas dan dinamis dalam keluarga. 3. hidupkan musyawarah dalam keluarga, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “… Urusan mereka diputuskan dengan jalan musyawarah di antara mereka…” (QS. Al-Syura, 42 : 38) 4. Tanamkan sikap menghargai pendapat orang lain dalam keluarga. 5. Wujudkan persatuan di antara sesama keluarga. Pepatah mengatakan, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”. (QS. Ali ‘Imran, 3 : 103) 6. Pelihara ukkhuwah/persaudaraan. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman : “Sesungguhnya orang- orang mu’min itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu” (QS. Al-Hujurat, 49 : 10) 7. Asah jiwa kepahlawanan anak melalui kehidupan keluarga. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan..” (QS. Al-Maidah 5 : 2) 8. Asah jiwa kepahlawanan kepada anak melalui kehidupan keluarga. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus…” (QS. Al- Bayyinah, 98 : 5) Sumber : Buku Khutbah Jum’at Keluarga Berencana & Kesehatan Reproduksi, diterbitkan oleh BKKBN bekerjasama dengan DEDAG RI, PBNU, MUI dan DMI. Seksi Advokasi, KIE dan Institusi Masyarakat DisPPKBPPPA Kab.HSS (02/07/2021) Uncategorized
Uncategorized Kelas Pengasuhan Dalam Rangka Percepatan Penurunan Stunting 05/10/202309/10/2023 Dinas PPKBPPPA Kabupaten Hulu Sungai Selatan Melalui bidang Pengendalian Penduduk mengadakan kegiatan Kelas Pengasuhan Dalam Rangka Percepatan Penurunan Stunting bertempat di Desa Bumi Berkat Kecamatan Sungai Raya. Read More
Uncategorized ALASAN MENIKAH DI USIA IDEAL 15/02/2021 (Seksi Advokasi, KIE dan PTLKB – 15/02/21) Read More
Uncategorized 14 Apa Itu Infertilitas? 07/08/2020 KIE Tentang Kesehatan Reproduksi Berseri untuk FB dan Website : 14. Apa Itu Infertilitas? Infertilitas atau ketidaksuburan atau kemandulan adalah tidak terjadinya kehamilan pada pasangan suami isteri yang telah berhubungan intim tanpa menggunakan kontrasepsi secara teratur minimal 1-2 tahun (Definisi WHO). Atau kondisi ketidakmampuan untuk menghasilkan keturunan, meskipun pasangan suami… Read More