MEMBANGUN KEPERCAYAAN DALAM KELUARGA admin, 28/05/2021 Segala puji bagi Allah Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Rasulullah, panutan dalam segala kehidupan, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, beserta keluarganya, para sahabat dan semua pengikutnya yang selalu setia sampai akhir zaman. Ungkapan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah, atas curahan rahmat yang tidak pernah berhenti kepada kita, semenjak kita dilahirkan ke alam dunia yang fana ini sampai sekarang. Semoga kita digolongkan kepada golongan orang-orang yang selalu bersyukur ni’mat kepada kita, setia kepada ajaran dan selalu berada pada jalan yang diridlai-Nya. Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala macam pasangan, mulai dari pasangan tumbuh-tumbuhan yang tujuannya sekedar jalan pengembangbiakan, lalu pasangan pada binatang yang sekedar tidak pada pengembangbiakan tetapi juga untuk memenuhi nafsu birahinya. Khusus pasangan untuk manusia, sesuai dengan ketinggian martabatnya, menikah bukan untuk melampiaskan nafsu birahi yang akan lenyap sementara waktu saja, tapi memiliki tujuan yang sangat luhur, yaitu mengikuti jalinan lahir dan batin yang menuju kedamaian dan ketentraman serta kebahagiaan yang abadi di dunia kini sampai di akhirat kelak. Belakangan ini kita dihadapkan kepada suatu realita dalam kehidupan rumah tangga dengan maraknya perceraian, padahal kita tahu bahwa talak atau perceraian suami istri dalam rumah tangga merupakan perbuatan halal tapi sangat dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : “Perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah adalah talak” Beberapa pertanyaan yang menggelinding dari kita Mengapa semudah itu mereka bercerai dalam rumah tangga padahal ukuran ekonomi bagi mereka sudah luar biasa ? Dan mengapa maraknya perceraian itu atas tuntutan kaum wanita , padahal yang punya talak adalah kaum pria ? Kehidupan dalam rumah tangga menurut islam termasuk dalam kategori ijtima‘iyyah (kemasyarakatan), bukan sekedar urusan suami dengan istri, tapi banyak sekali keterkaitan dengan kerabat dan masyarakat. Karena itu kehidupan dalam rumah tangga penuh dengan romantika, ada tawa, ada tangis, ada bahagia, ada sengsara, bagaikan berlayar di samudra bebas, bersuka cita pada saat cuaca cerah dan perahu pun lari pada gangguan. Tapi kadang-kadang langitpun kelabu, angin berhembus dengan kencang, perahu pun lari tanpa gangguan. Tapi kadang-kadang langitpun kelabu, angin berhembus dengan kencang, perahu pun larimya tidak karuan terumbang ambing oleh dahsyatnya ombak. Karena itu, seyogyanya setiap yang akan melangsungkan pernikahan , atau pasangan muda, berhati-hati, sedia payung sebelum hujan, agar dapat tabah dan tawakkal pada saat mendapat cobaan. Kehidupan rumah tangga yang harmonis dalam Islam ditegakkan dan digerakkan oleh cita-cita suci, yaitu dengan niat ibadah kepada Allah, membangun keluarga sakinah yang diridlai-Nya, sehingga tetap menunjukkan keharmonisan dalam menghadapi segala macam peristiwa, perjuangan dan cobaan yang bagaimanapun beratnya. Itulah antara lain makna sakinah yang tercantum dalam ayat : وَجَعَلَ اِلَيۡهَا لِّتَسۡكُنُوۡۤا اَزۡوَاجًا اَنۡفُسِكُمۡ مِّنۡ لَكُمۡ خَلَقَ اَنۡ اٰيٰتِهٖۤ وَمِنۡ يَّتَفَكَّرُوۡنَ لِّقَوۡمٍ لَاٰيٰتٍ لِكَ ذٰ فِىۡ اِنَّ وَّرَحۡمَةً مَّوَدَّةً بَيۡنَكُمۡ “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang, Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. Ar – rum, 30 : 21) Memang kesatuan aqidah, kesatuan cita-cita dan kesatuan pandangan hidup di dalam suatu rumah tangga yang diwarnai pemeliharaan kejujuran sebagai kunci kesetiaan, dan keterbukaan dari masing-masing pihak dengan komunikasi dua arah merupakan pondasi dan segmen yang kebal bagi rumah tangga. Kalau di dalam suatu rumah tangga; si ayah mau ke barat, si ibu mau ke timur, dan si anak bebas mencari jalannya sendiri tanpa mendapat pimpinan dan bimbingan, maka akhirnya akan timbul apa yang dinamakan orang sekarang “broken home” yaitu rumah tangga yang hancur berantakan. Untuk menjadi orang jujur tentu tidak mudah, tidak begtu saja datang dari langit bagaikan hujan, tapi memerlukan perjuangan yang tidak pernah berhenti setiap saat, karena setiap kebaikan selalu dihadang dengan godaan. Tapi seberat apapun godaan itu, jika dihadapi dengan niat ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan selalu memohon perlindungan-Nya, niscaya akan dapat teratasi, dan kejujuran pun akan dapat dimiliki. Di antara godaan untuk menjadi orang jujur dalam rumah tangga adalah perselingkuhan dan berprasangka jelek terhadap pasangannya. Bagaimana tidak, karena berlaku jujur dalam perbuatan selingkuh dihadapan pasangannya, berarti menantang kehancuran dalam rumah tangga. Demikian juga dengan terus terang dalam berprasangka jelek terhadap pasangannya. Biasanya orang yang telah berbuat salah akan buruk prasangkanya. Seorang penyair berkata : “Jika seorang buruk perbuatannya, maka akan buruk juga prasangkanya” Satu-satunya jalan menuju kejujuran dalam rumah tangga yang sudah jatuh dalam perselingkuhan dan memiliki prasangka buruk terhadap pasangannya adalah berhenti dari perselingkuhan dan prasangka buruknya. Lalu bertobat kepada Allah dengan taubat nashuha untuk tidak mengulangi perselingkuhan dan prasangka buruknya lagi.Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : لِذُنُوۡبِهِمۡ فَاسۡتَغۡفَرُوۡا اللّٰهَ ذَكَرُوا اَنۡفُسَهُمۡ ظَلَمُوۡۤا اَوۡ فَاحِشَةً فَعَلُوۡا اِذَا وَالَّذِيۡنَ يَعۡلَمُوۡنَ وَهُمۡ فَعَلُوۡا مَا عَلٰى يُصِرُّوۡا وَلَمۡ اللّٰهُ اِلَّا الذُّنُوۡبَ يَّغۡفِرُ وَمَنۡ “Dan orang-orang apabila mengerakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali Imran, 3 : 135) Langkah berikutnya, untuk membangun kepercayaan dalam keluarga adalah mengusahakan keterbukaan dari masing-masing pihak dengan komunikasi dua arah. Semua anggota keluarga diberi hak yang sama dalam berbicara dan mengeluarkan pendapat untuk meraih kesuksesan bersama. Keterbukaan dari masing-masing pihak dengan komunikasi dua arah merupakan sarana yang paling baik dalam rangka mengenal karakteristik setiap anggota keluarga sebagai motifasi untuk menumbuhkan saling menghormati, saling memberi perhatian, saling menyayangi, dan lain sebagainya, sekaligus menyadarkan diri akan keterbatasannya dan persamaannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : وَّقَبَآٮِٕلَ شُعُوۡبًا وَجَعَلۡنٰكُمۡ وَّاُنۡثٰى ذَكَرٍ مِّنۡ خَلَقۡنٰكُمۡ اِنَّا النَّاسُ يٰۤاَيُّهَا تۡقٰٮكُمۡاَ اللّٰهِ عِنۡدَ اَكۡرَمَكُمۡ اِنَّ لِتَعَارَفُوۡا “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling taqwa diantara kamu” (QS. Al-Hujurat 49 : 13) Pada kesempatan ini, khatib mengajak para jamaah yang berbahagia, mari kita membangun kepercayaan dalam keluarga kita, dengan memelihara kejujuran sebagai kunci kesetiaan, dan memelihara keterbukaan dari masing-masing pihak dengan komonikasi dua arah, sambil memperhatikan hal-hal berikut : 1. Kita tumbuhkan ukhuwah/persaudaraan sesama kita, berdasarkan firman Allah : اَخَوَيۡكُمۡبَيۡنَ فَاَصۡلِحُوۡا اِخۡوَةٌ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ اِنَّمَا “Sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu”. (QS. Al-Hujurat 49 : 10) 2. Kita jalin silaturraim yang harmonis. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : وَالۡاَرۡحَامَ بِهٖ نَ لُوۡءَ تَسَ نَ الَّذِىۡ اللّٰهَ وَاتَّقُوا “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama – Nya kamu saling meminta satu sama lain”. (QS. Surat an-Nisa 4 : 1) 3. Kita padamkan rasa curiga – mencurigai di antara kita. Sabda Nabi Muhammad saw. “Hindarilah buruk sangka, karena buruk sangka itu merupakan ucapan yang paling dusta”. 4. Kita bangun persatuan untuk menuju kekuatan dan keutuhan dalam berumah tangga, sebagai pondasi dalam membangun kekuatan berbangsa dan bernegara. Pepatah mengatakan : “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : تَفَرَّقُوۡا وَّلَا جَمِيۡعًا اللّٰهِ بِحَبۡلِ وَاعۡتَصِمُوۡا “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai – berai”. (QS. Ali ‘Imran 3 : 103) Sumber : Buku Khutbah Jum’at Keluarga Berencana & Kesehatan Reproduksi, diterbitkan oleh BKKBN bekerjasama dengan DEDAG RI, PBNU, MUI dan DMI. DisPPKBPPPA Kab.HSS-Seksi Advokasi, KIE dan PTLKB (28/05/21) Uncategorized
Uncategorized Suntik KB 1 Bulanan/Suntik KB Kombinasi 19/03/2021 KIE KKB Berseri “AMAN DAN SEHAT MENGGUNAKAN KONTRASEPSI” Seri ke-5, tentang : Suntik KB 1 Bulanan/Suntik KB Kombinasi DisPPKBPPPA Kab.HSS-Seksi Advokasi, KIE dan PTLKB (19/03/21) Read More
Uncategorized Pil Progestin (Minipil) 09/04/2021 KIE KKB Berseri “AMAN DAN SEHAT MENGGUNAKAN KONTRASEPSI” Seri ke-7, tentang : Pil Progestin (Minipil) DisPPKBPPPA Kab.HSS-Seksi Advokasi, KIE dan PTLKB (09/04/21) Read More
Uncategorized DEKLARASI PENCEGAHAN PERKAWINAN PADA USIA ANAK DI MA ABUL HASAN DURIAN RABUNG KECAMATAN PADANG BATUNG 15/01/201824/01/2018 Alhamdulillah, Pada hari ini Senin, 15 Januari 2018 mulai Pukul 07.30 WITA. di Madrasah Aliyah Swasta Abul Hasan Durian Rabung di Kecamatan Padang Batung melaksanakan Deklarasi dan Penandatangan Deklarasi Pencegahan Perkawinan Pada Usia Anak, Bertindak sebagai Pembina Upacara Bendera Bapak Drs. Abdul Wahab Syarani,MM Kepala Kementerian Agama Kab.Hulu Sungai Selatan,… Read More